Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pasca-Fordisme, Tatanan Ekonomi Global, dan Perubahan Perilaku Konsumen Pasca Krisis

The fundamental impulse that sets and keeps the capitalist engine in motion comes from the new consumers' goods, the new methods and production or transportation, the new markets, the new forms of industrial organisation that capitalist enterprise creates -Joseph Schumpeter, (1979:83)- Pendahuluan Krisis ekonomi global yang terjadi secara periodik sejak berakhirnya Perang Dunia II setidaknya memiliki fiturnya masing-masing yang mencirikan adanya perubahan pada masa tertentu. Perubahan perilaku konsumen (khususnya di negara maju) disebut sebagai salah satu fitur perubahan dalam 25 tahun terakhir perjalanan ekonomi global. Perubahan tersebut dispesifikasikan dengan yang disebut perilaku konsumen baru. Perubahan perilaku tersebut merupakan dampak dari berubahnya kebijakan ekonomi akibat krisis atau peristiwa lain yang bersifat abnormal : perekonomian mengalami stagnasi dan struktur sosial di dalamnya mengalami perubahan. Kondisi ini, dimana terjadi kontradik...

Pengaruh Kepemimpinan Hugo Chavez dalam Transformasi Konflik dengan Kolombia Studi Kasus Tudingan Kolombia terhadap Venezuela Terkait Perlindungan Gerakan Perlawanan Marxis (FARC) Kolombia

Ringkasan Eksekutif           Meningkatnya tensi ketegangan diplomatik di kawasan Amerika Selatan antara Venezuela dan Kolombia 2010 lalu merupakan puncak dari tuduhan Kolombia terhadap Venezuela yang dituding melindungi dan memasok senjata bagi Kelompok Pemberontak Marxis FARC, dimana tuduhan Kolombia tersebut sangat mengganggu integritas kepemimpinan Hugo Chavez, Presiden Venezuela yang langsung memutuskan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya tersebut. Hugo Chavez merupakan presiden beraliran sosialis dan sangat menentang pengaruh Amerika Serikat berikut paham kapitalismenya dimana Kolombia merupakan rekan Amerika Serikat. Kepemimpinan Chavez yang sangat kuat dan keras tersebut sangat didukung oleh rakyatnya yang menganggap Chavez sebagai pemimpin yang mampu memberikan kesejahteraan. Chavez sejak terpilih 1998 telah memulai program-program ekonomi sosialisnya dan menentang campur tangan barat dalam setiap sendi kehidupan ...

The Return of Realism in The Contemporary World?

21 tahun runtuhnya Uni Soviet, 21 tahun runtuhnya Perang Dingin, pembentukan tata dunia baru sudah berjalan sekian lama dalam rentang waktu tersebut. Runtuhnya Uni Soviet meruntuhkan argumen realis dimana tata dunia tidak akan berubah dari bipolarisme yang dianggap dapat menstabilkan perdamaian dunia. Bipolarisme yang sebegitu kuat mengutubkan negara-negara bangsa menjadi dua kekuatan besar dianggap menstabilkan karena dapat menampung kekuatan-kekuatan yang 'berantakan' dan 'berserakan' sehingga kekuatan-kekuatan tersebut tidak 'bermain sendiri' dan saling memakan. Ibarat seorang ibu yang sedang berbelanja, ia menaruh seluruh belanjaannya dalam kantong plastik agar tidak berserakan. Begitu juga dengan bipolarisme, ia meringkaskan kekuatan-kekuatan dalam satu wadah atau kubu. Oleh karena itu dalam Perang Dingin tidak mencuat konflik-konflik internal. Konflik terakomodir dalam satu isu, satu medan, satu cakupan, satu isu, dan dua pemain. Terakomodirnya isu dala...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...