"It's not a question of worrying or hoping for the
best, but of finding new weapons.." -Giles Deleuze-
Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan (subprime mortagage) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup yang sedang "hit" di masyarakat internasional dan global. Gaya hidup itu adalah: Kapitalisme. Lebih spesifik, gaya hidup ini mengerucut pada satu model terbaru: Kapitalisme Finansial. Ya, dunia sudah terfinansialisasi. Mulai dari rumah, makanan, uang, pakaian, bahkan sekolah pun sudah terkomodifikasi menjadi lahan investasi. Paparan ini merupakan kondisi latar belakang yang sekilas menjadi pemikiran penulis untuk "menulis" apa yang menjadi concern penulis terhadap kondisi globalisasi saat ini.
Fenomena
globalisasi yang menguat sejak krisis finansial 1970an membawa kapitalisme
global memasuki fase baru, yaitu era ‘Revolusi Finansial’ dimana hampir seluruh
negara di dunia telah terkoneksikan dalam sistem keuangan berbasis finansial
dengan perputaran uang virtual yang semakin terintegrasi dengan sistem global.[1]
Hal ini kemudian semakin memperlancar arus perdagangan internasional dan
kerjasama-kerjasama yang menjadi fitur utama globalisasi. Dengan adanya finansialisasi,
arus dana; modal; dan investasi semakin mudah berpindah dari satu negara ke
negara lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain, hingga dari satu benua ke
benua lain.[2] Tercatat
pertumbuhan ekonomi dunia meningkat tajam setelah adanya finansialisasi.
Perputaran mata uang meningkat dari $ 15 milyar pada 1973 menjadi $ 1,2 triliun
pada 1995, hal ini juga meningkatkan pemerataan sirkulasi valuta dan kedekatan
negara-negara dalam globalisasi.[3]
Finansialisasi juga semakin menghubungkan entitas-entitas dan aktor-aktor
hubungan internasional dalam jaringan sehingga arus informasi dapat dengan
cepat diterima di segala penjuru dunia.
Namun
di sisi lain, finansialisasi sarat akan krisis. Dikatakan demikian karena
sistem finansialisasi memungkinkan kebebasan yang terkadang tidak terkendali, yang
menjadikan seluruh operasi ekonomi menjadi spekulatif karena demokratisasi
setiap lini kehidupan ke dalam finansial.[4]
Hal tersebut terlihat dalam prosedur-prosedur dalam permainan finansial itu
sendiri. Sebagai contoh setiap orang diperbolehkan bermain dalam bursa saham
selama ia mampu membeli setiap lembar sahamnya. Titik rentannya adalah apabila
seseorang itu merasa merugi, ia dapat sewaktu-waktu dengan bebas menarik
dananya sementara dana yang ia investasikan merupakan penopang berjalannya
pasar. Tindakan yang disebut sebagai spekulasi ini seperti apa yang dilakukan
George Soros di pasar saham Asia pada 1998.[5]
Ketika itu berbagai isu mengenai inflasi besar-besaran di Asia Tenggara membuat
pengusaha ini menarik saham investasinya secara besar-besaran yang praktis membuat
lantai bursa saham hampir di seluruh negara di Asia Timur mengalami koreksi
(penurunan nilai saham dan mata uang) secara tajam.
Tidak
hanya di sektor bursa saham, barang-barang kebutuhan dari primer hingga tersier
juga bergantung pada finansialisasi.[6]
Uang, yang sedianya digunakan untuk membayar kebutuhan tersebut
di”virtualisasi” menjadi apa yang dikenal sebagai kartu kredit. Munculnya kartu
kredit ini memungkinkan konsumen membeli apapun yang diinginkan tanpa harus
memiliki uang riil dengan syarat harus memiliki rekening tabungan di bank,
namun jumlah tabungan yang disimpan tidak harus sebanyak apa yang ingin dibeli.
Dengan kata lain konsumen dapat meminjam uang dari bank dan harus
mengembalikannya dalam tempo waktu tertentu. Pada kelanjutannya sistem ini tak
terkendali, dimana konsumen terlalu bebas hingga tidak menyadari bahwa utang
kreditnya menumpuk dan pada akhirnya ketika tidak bisa membayar barang-barang
propertinya yang menjadi jaminan ditarik bank. Kejadian dengan skala kecil ini
tentu semakin terakumulasi menjadi skala besar sehingga bank tidak lagi mampu
menanggung utang-utangnya akibat kredit yang macet tersebut, dan pada akhirnya
menimbulkan krisis.
Situasi
ini menjadi paradoks. Di satu sisi finansialisasi memudahkan perpindahan dana,
memudahkan kerjasama perdagangan internasional, dan memudahkan akumulasi
kapital. Namun di sisi lain, finansialisasi sangat rentan terbawa ke dalam
kondisi resesi oleh karena logika arus dana sebebas-bebasnya dan
serenggang-renggangnya seseorang atau suatu entitias dalam mengoperasikan
uangnya. Krisis di Eropa 1993-1994, dan krisis Asia 1998-1999 yang kemudian
yang menjadi bencana ekonomi pada saat itu, menunjukkan betapa mudah seorang
pemodal menarik dananya dari pasar Asia yang pada saat itu diprediksi akan
mengalami resesi. Dot-com bubble,
telah menunjukkan adanya kesalahan dalam struktur penggunaan ICT (internet)
terhadap sistematika finansialisasi tersebut. [7]
Dalam
perjalanannya sebagai sistem finansial global, adalah krisis subprime mortgage di Amerika Serikat
pada 2008 terjadi sebagai ledakan (boom)
yang menyebabkan kolapsnya sistem finansial Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan
seluruh negara yang pada umumnya terintegrasi dengan finansialisasi global
hingga kini. Krisis ini disebut-sebut sebagai krisis terparah sejak Depresi
Besar (Great Depression) pada 1929 –
1933.[8]
Secara umum, krisis di Amerika Serikat telah menggejala sejak 2005 dimana harga
perumahan melonjak tinggi disebabkan oleh adanya kredit yang belum terbayarkan.
Pengusaha properti rumah tidak bisa menyediakan lagi rumah karena kredit macet
menyebabkan utang terus bertambah. Alhasil secara bertahap: 2006, 2007, hingga
2008, bank-bank yang telah mengucurkan kredit perumahan bangkrut karena kredit yang
berlebih. Seperti yang BBC laporkan,[9]
berbagai rumah pegadaian di Amerika Serikat mengalami kebangkrutan. Hal ini
menyebabkan banyaknya pekerja yang dipecat. Krisis juga ditandai oleh Bank
sentral Perancis, BNP Paribas yang mencatatkan penurunan likuiditas hingga
bermiliaran euro pada bulan yang sama.
Pada
saat yang sama perekonomian Amerika Serikat sedang mengalami penurunan. Setelah
menghabiskan anggaran negara untuk berperang di Vietnam, Amerika Serikat
dibebani oleh permasalahan utang luar negeri yang sangat besar. Gelembung
internet (internet buble/dot-com buble),
sebutan untuk krisis media maya pasca-finansialisasi ekonomi 1970an;[10]
kolapsnya European Rate Mechanism pada
1992-1993 yang menyerang Inggris Raya dan terlihat dampaknya pada fragmentasi pergerakan
menuju kesatuan moneter; dan kolapsnya Peso Meksiko pada 1994-1995, yang
mengancam dengan cepat krisis finansial di seluruh Amerika Latin;[11]
dan terakhir adalah invasi Amerika Serikat ke Afganistan dan Irak dalam rangka
memerangi terorisme pasca tragedi 9/11 menjadi akar pemicu beban Amerika
Serikat dalam perekonomian domestiknya yang memaksa AS berutang.
Dari
permasalahan dan situasi paradoksal di atas, mengapa finansialisasi menjadi sedemikian penting
dalam sistem kapitalisme global kontemporer di samping berbagai kerentanan dan
krisis yang terjadi?
[1] Robert Gilpin. Global political economy :
understanding the international economic order (New York: Princeton University
Press, 2001) hlm. 264-265
[2] Daniela Gabor. Central Banking and Financialization: A
Romanian Account of how Eastern Europe become Subprime (London: Palgrave
Macmillan, 2011), hlm. 2
[3] Robert Gilpin. Global political economy :
understanding the international economic order (New York: Princeton
University Press, 2001) hlm. 261
[4] Finansialisasi
kapitalisme menjadi “finansialisasi segalanya” yang menjustifikasi kapitalisasi
di segala lini kehidupan, lihat
Richard Peet. Unholy Trinity: the IMF, World Bank, and WTO (New York: Palgrave Macmillan, 2009), hlm. 244-245
[6] Richard Peet. Unholy Trinity: the IMF, World
Bank, and WTO (New York: Palgrave Macmillan, 2009), hlm. 244
[7] Dot-com bubble atau dot-com crash adalah istiliah menggelembungnya
perusahaan-perusahaan internet pada 1990-an ketika internet telah semakin
menjadi kebutuhan dasar bagi berjalannya finansialisasi ekonomi di Amerika
Serikat, lihat Alan Grennspan, The Age of
Turbulence: Adventures in a New World (New York: Penguin Press, 2007) hlm.
5
[8] Joseph Stiglitz. Time For a Visible Hand: Lessons from the
2008 World Financial Crisis (New York: Oxford Univ. Press, 2010) hlm. 1
[9] George Soros, The New Paradigm for Financial
Markets the credit crisis of 2008 and what it means (New York: PublicAffairs, 2008)
[10] Ibid, hlm. xv
[11] Robert Gilpin. Global political economy :
understanding the international economic order (New York: Princeton
University Press, 2001) hlm. 264-265
Komentar
Posting Komentar