By
Semmy Tyar Armandha | Research Fellow, Prakerti
Collective Intelligence
Konflik Rusia-Ukraina yang saat ini memuncak pada operasi militer skala penuh, telah mengundang respons, salah satuya upaya untuk menganalisis situasi yang terjadi. Setidaknya terdapat dua sudut pandang analogis yang mengemuka. Pertama, pandangan bahwa Rusia akan seperti Jerman yang menganeksasi Sudentenland (bagian dari Cekoslovakia) pada 30 September 1938, dengan alasan wilayah tersebut dihuni oleh warga keturunan Jerman. Padahal sehari sebelumnya, Jerman bersama-sama dengan Inggris, Perancis dan Italia telah menyepakati Perjanjian Munich dalam penyerahan wilayah tersebut secara damai; manuver ini kemudian memicu Perang Dunia II. Kedua, pandangan yang menyebutkan posisi Rusia saat ini mirip dengan posisi Amerika Serikat saat bersitegang dengan Uni Soviet pada 1962. Soviet mengirim misil-misil nuklir ke Kuba dalam rangka mempertahankannya dari serangan Amerika terhadap Fidel Castro. Krisis ini kemudian diakhiri dengan kesepakatan Amerika tidak menginvasi Kuba sebagai ganti Soviet menarik kembali misil-misil nuklirnya.
Kedua argumen analogis tersebut dapat dikatakan upaya persuasi terhadap
publik untuk menunjukkan siapa yang benar dan salah, siapa yang
bertanggungjawab, siapa agresor dan siapa korban. Menurut Segell (2022)
tujuannya tidak lain untuk melancarkan serangan psikologis untuk meraih opini
publik tertentu terhadap isu yang berkembang. Dalam bahasa yang paling
sederhana, tidak salah menyebut argumen ini sebagai peng-kambing-hitam-an;
argumen yang tujuannya menyalahkan salah satu pihak. Jika diteruskan, maka
argumen ini akan berevolusi bentuknya menjadi yang paling ekstrem yaitu teori
konspirasi: di mana dunia dikendalikan oleh satu orang/kelompok super yang
bergerak secara klandestin.
Mencoba menghindari hal tersebut, saya mengajukan sebuah argumen
alegoris dengan tujuan menggambarkan situasi menggunakan landasan studi politik
internasional. Saya menggambarkan konflik Rusia-Ukraina sebagai situasi ‘Perangkap Helen’. Sebagai sebuah alegori,
Perangkap Helen menjelaskan situasi dilema keamanan, yaitu kondisi di mana upaya defensif dari
suatu negara justru secara paradoksal akan cenderung menimbulkan efek ofensif
terhadap negara lain. Jika Graham T. Allison merujuk “Perangkap Thucydides”
untuk menjelaskan dilema keamanan (tradisional ala
Perang Dingin) antara Amerika
Serikat dan China yang diprediksi segera berperang karena
kondisi keduanya yang menyerupai Athena dan Sparta sesaat sebelum pecahnya
Perang Peloponesia, maka “Perangkap Helen” merupakan
alegori situasi Rusia-Ukraina sebagai salah satu varian hasil mutasi
dilema keamanan yang lebih kompleks, yang disebut Paul Roe (2008) sebagai
dilema keamanan sosietal.
Sebelum menjelaskan dilema keamaan sosietal, Perangkap Helen sendiri
diadaptasi dari salah
satu wiracrita Yunani Kuno karangan Homeros berjudul Iliad. Karya yang ditulis pada abad ke-18 SM ini, menggambarkan
Helen sebagai sosok wanita tercantik di dunia dari Kerajaan Sparta yang
diperisteri oleh Raja Menelaus. Kecantikannya begitu memikat, hingga dalam
suatu kesempatan kunjungan kenegaraannya, Pangeran dari Troya, Paris, nekat
menculik Helen untuk dibawa dan dipersunting di Kerajaan Troya. Tindakan
yang dengan mudah dikategorikan sebagai penghinaan ini lantas memicu penyerbuan
besar-besaran militer Yunani ke Troya selama kurang lebih 10 tahun, yang
diakhiri dengan kejatuhan Troya serta kembalinya Helen ke tangan Menelaus.
Tentu situasi Rusia-Ukraina saat ini tidak secara harfiah menyerupai
wiracrita Iliad tersebut karena konteks zaman yang jauh
berbeda. Namun sebagai alegori, cerita dalam Iliad ini dapat
menjelaskan situasi yang disebut sebagai dilema keamanan sosietal.
Dilema
keamanan dalam pengertiannya yang
tradisional, adalah
konsep yang diusulkan John Herz dan Herbert Butterfield (1950an), untuk
menjelaskan bahwa suatu negara dalam rangka meningkatkan keamanan, alih-alih
menciptakan situasi yang kondusif, justru menimbukan reaksi dari negara lain,
yang pada akhirnya mengurangi keamanan negara satu sama lain. Ketidakamanan
suatu negara menjadi “syarat” bagi keamanan negara lain. Situasi ini
sebenarnya tidak diinginkan atau tidak disengaja, namun terjadi karena
peningkatan keamanan cenderung dimisinterpretasikan sebagai
tindakan ofensif oleh negara lain. Perlombaan senjata adalah bentuk paling
konkrit dari dilema keamanan, di mana suatu negara meningkatkan anggaran
militer disertai modernisasi persenjataan, akan diikuti oleh peningkatan
anggaran militer dan modernisasi persenjataan negara lain, dengan alasan
mengantisipasi tindakan ofensif yang dapat sewaktu-waktu dilakukan sebagai
ekses dari meningkatnya kapabilitas militer. Dalam bentuknya yang paling
ekstrem, situasi dilema keamanan mengaburkan batas-batas antara pertahanan dan
penyerangan, di mana negara-negara terus-menerus melancarkan kecurigaannya satu
sama lain.
Setelah Perang Dingin berakhir, perlombaan senjata antar negara semakin
menurun. Hal ini karena persaingan semakin beralih ke bidang ekonomi dan
pembangunan. Pecahnya Uni Soviet menjadi beberapa negara merdeka termasuk
Ukraina pada 1991, mengakhiri perang tanpa pertempuran antara pelaku utamanya
yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet sendiri. Tidak ada yang mampu menandingi
kapasitas Amerika Serikat dalam hal militer. Di sisi lain, gelombang
demokratisasi semakin bertumbuh, karena komunisme sebagai ideologi yang
dianggap oposan demokrasi, ikut runtuh bersama-sama dengan pengusungnya, Uni
Soviet. Perang menjadi hal semakin ditinggalkan, sebagaimana konsepsi keamanan
semakin bergeser dari negara ke individu.
Bubarnya Uni Soviet dilanjutkan dengan bubarnya Pakta Pertahanan
Warsawa di tahun yang sama, sebagai satu-satunya pakta pertahanan yang dapat
menandingi NATO. Namun demikian, ketiadaan kekuatan penanding yang seimbang
dengan Amerika Serikat tidak membuat pakta pertahanan yang diusungnya semakin
meredup. Pakta pertahanan Atlantik Utara (NATO) justru semakin diminati oleh
banyak negara, terutama di Eropa Timur yang tadinya bergabung dengan Pakta
Warsawa. Satu persatu negara di kawasan tersebut mulai bergabung dengan NATO.
Padahal, NATO secara deklaratif pernah menyatakan tidak akan memperluas
keanggotaannya ke Eropa Timur. Dokumen yang disimpan di Arsip Nasional Inggris
tertanggal Maret 1991 menetapkan bahwa pejabat AS, Inggris (UK), Prancis dan
Jerman membahas janji yang dibuat ke Moskow bahwa NATO tidak akan memperluas ke
Polandia dan sekitarnya. Dokumen tersebut juga berisi beberapa referensi ke
pembicaraan 2+4 tentang penyatuan Jerman. Para pejabat Barat menjelaskan kepada
Moskow bahwa NATO tidak akan memperluas ke wilayah timur Jerman. Dokumen
tersebut mengutip Raymond Seitz, Asisten AS Sekretaris Negara untuk Eropa dan
Kanada.
Ekspansionisme NATO dipandang Rusia sebagai upaya ekspansi NATO ke
perbatasannya yang mengkhawatirkan dan mengancam keamanan nasional, terutama
dalam hal prospek Ukraina menjadi anggota NATO. Setelah runtuhnya Uni Soviet,
terjadi lima gelombang perluasan NATO, termasuk ekspansi ke arah timur Eropa,
termasuk negara-negara Eropa timur yang pernah menjadi anggota blok Soviet
yakni Negara Baltik Lituania, Latvia, Estonia, Polandia, Rumania, dan lainnya.
Sejak 2008, NATO telah mengusung gagasan untuk memasukan Ukraina, yang notabene
memicu kemarahan Rusia. Ekspansi NATO ke timur tersebut, selangkah demi
selangkah membuat jangkauan operasinya lebih dekat ke Rusia atau hanya kurang
lebih 161 km lebih dekat ke Moskow. Keunggulan NATO kini tidak hanya berbatasan
dengan Rusia tetapi lebih luas lagi mengelilingi Rusia.
Perangkap
Helen sebagai Alegori Dilema Keamanan Sosietal
Dilema keamanan sosietal menurut Paul
Roe (2005), adalah sebuah kondisi di mana penegasan identitas dari satu
kelompok akan menimbulkan reaksi dari kelompok dengan identitas yang berbeda,
sehingga menimbulkan tekanan terhadap kemampuan kelompok tersebut untuk
mengekspresikan atau mereporduksi kultur, yang menjadikan identitas kelompok
tersebut dipertanyakan. Tindakan mempertahankan identitas suatu kelompok akan
selalu dimisrepresentasikan oleh kelompok lain sebagai
ancaman. Dalam kisah Troya, dua identitas yang berbeda merasakan tekanan untuk
menegaskan identitas, sehingga keduanya saling berupaya meniadakan dengan
saling menyerang. Posisi Helen yang sebenarnya lemah dan terlihat tidak
mengancam, justru menjadi sumber benturan yang “menghisap” kedua bangsa ke
dalam pusaran perang. Oleh karenanya tidak salah jika menyebut Helen sebagai
perangkap, atau lebih tepatnya sebuah kondisi yang memerangkap dua kelompok
dengan identitas yang berbeda untuk saling berperang karena sebab-sebab di luar
kepentingan yang lebih urgen (sebelumnya kedua bangsa sangatlah bersahabat dan
saling memberikan bantuan, hanya Helen-lah masalah di antara keduanya).
Alegori
Perang Troya pernah digunakan Richard Ned Lebow (2008) untuk menengahi debat
realisme politik dan idealisme liberal dalam menjelaskan kebijakan luar negeri yang
didasarkan pada perbedaan identitas. Lebow mengkritik pandangan bahwa
identitas akan terbentuk sebagai kontra terhadap “yang lain”. Pandangan yang
dianggap negatif terhadap identitas ini, dirasa Lebow sangat biner, sehingga
tak mampu menjawab berbagai problem dalam hubungan internasional kontemporer,
khususnya pasca perang dingin.
Bagi Lebow, Iliad sebagai
karya sastra, memperlihatkan dua kubu yang berperang satu sama lain karena
mempertahankan identitasnya. Baik Sparta maupun Troya bersikukuh memperbutkan
Helen. Kedua kerajaan memainkan strategi-strategi pertempuran yang sangat
cerdik untuk mengecoh lawan. Dengan merebut Helen, identitas dan harga diri
masing-masing kerajaan dipertaruhkan. Sebetulnya Sparta bisa saja melepas Helen
dengan syarat, menukarnya dengan ganti rugi besar berupa sandang-pangan-papan
atau wilayah tertentu dari Troya. Di sisi lain, Troya juga seharusnya bisa
memaksa Paris untuk melepaskan Helen untuk kembali demi mengamankan Troya dari
serangan-serangan aliansi bangsa-bangsa Yunani yang pada saat itu digalang oleh
Menealus bersama Agamemnon (Raja Mycenae). Namun hal tersebut tidak terjadi,
karena baik bangsa-bangsa Yunani maupun Troya memiliki identitas yang harus
dijaga, dan keduanya tidak menggunakan “yang lain” untuk menentukan
identitasnya masing-masing.
Senada dengan Lebow, saya melihat
bahwa Rusia dan Ukraina masuk ke dalam Perangkap Helen, karena menjadi konflik
berbasis identitas yang dianggap perlu dilakukan untuk mempertahankan harga
diri, di mana pada akhirnya menentukan kedaulatan. Tidak ada pihak yang benar
maupun salah dalam konflik ini. Rusia yang merasa sebagai bangsa timur, menolak
kehadiran bangsa barat (yang direpresentasikan oleh NATO) yang ingin memperluas
wilayahnya. Sementara Ukraina, merasa berhak memisahkan diri dari identitas Uni
Soviet yang selama ini melekat dengan Rusia, dengan cara bergabung dengan NATO.
Kelompok kepentingan Rusia dan separatis-separatis di wilayah Donetsk dan
Luthansk, selalu mendesak pemerintahan untuk pro terhadap Rusia, sehingga
memaksa kebijakan-kebijakan untuk merepresi kelompok-kelompok tersebut. Sepak
terjang Victor Yanukovich pada 2004 dan 2010 yang kebijakannya sangat
pro-Rusia, mendorong segregasi kelompok-kelompok kepentingan di Ukraina.
Dalam hal ini terdapat dua dilema
keamanan sekaligus. Pertama, dilema keamanan sosietal antara
kelompok pro-Rusia dan pro-Eropa. Kelompok pro-Eropa berhasil dua kali
menggalang revolusi, yaitu Revolusi Oranye pada 2004 dan Revolusi Maidan pada
2014. Dilema keamanan di antara keduanya terjadi manakala bila kelompok pro-Eropa
berhasil menggiring Ukraina menjadi anggota NATO ataupun Uni Eropa, maka
terdapat potensi besar pengucilan terhadap kelompok pro-Rusia. Sementara bagi
kelompok pro-Eropa, kelompok pro-Rusia akan semakin mempermudah Rusia dalam
mengendalikan Ukraina sebagai negara boneka. Kedua, dilema keamanan antara
pemerintahan pro-Eropa Rusia dan Rusia. Jika pemerintahan pro-Eropa di Ukraina
berhasil bergabung dengan NATO, maka Rusia berpotensi diserang oleh NATO
melalui perbatasan Rusia-Ukraina (sebagai perbatasan darat terpanjang yang
dimiliki Rusia), yang membuat persenjataan NATO akan dengan mudah diarahkan ke
wilayah Rusia sewaktu-waktu.
Dapat dikatakan penegasan identitas
kelompok pro-Eropa sangatlah masif di Ukraina, khususnya dalam gerakan
Euromaidan. Euromaidan adalah gelombang demonstrasi dan kerusuhan sipil di
Ukraina, yang dimulai pada malam 21 November 2013 untuk memrotes keputusan
pemerintah Ukraina pimpinan Yanukovych untuk menangguhkan penandatanganan
Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Ukraina, alih-alih memilih hubungan yang lebih
dekat dengan Rusia dan Uni Ekonomi Eurasia. Lingkup protes meluas, dengan
seruan pengunduran diri Yanukovych, dan Pemerintah Azarov Kedua. Situasi
meningkat setelah pembubaran pengunjuk rasa dengan kekerasan pada tanggal 30
November, menyebabkan lebih banyak pengunjuk rasa bergabung. Protes menyebabkan
Kudeta Ukraina 2014, yang dikenal di Barat sebagai Revolusi Martabat, yang
menggulingkan pemerintahan Yanukovycs. Tak lama setelah perjanjian
ditandatangani, Yanukovych dan pejabat tinggi pemerintah lainnya meninggalkan
negara itu.
Penelitian oleh Volodymir Kulyk (2016)
menunjukkan dampak signifikan Euromaidan dan agresi Rusia di Krimea terhadap
pembentukan identitas nasional di Ukraina. Rakyat Ukraina semakin bangga akan
identitasnya, lebih tinggi dibandingkan sebelum Euromaidan. Arti penting
identitas bangsa Ukraina termanifestasikan dalam peningkatan keterasingan dari
Rusia, walaupun tetap ada ambivalensi tentang menjauhkan diri dari orang-orang
Rusia. Sebagian besar rakyat Ukraina menonjolkan identitas nasional dan
unsur-unsur utama isinya, termasuk kebijakan luar negeri pro-Barat, narasi
sejarah nasionalis dan legitimasi kedua bahasa dengan keunggulan simbolis
Ukraina.
Penegasan identitas yang dilakukan
Rusia dengan mengetengahkan statusnya sebagai bangsa “timur” yang harus menolak
pengaruh barat, menekan posisi Ukraina dan memaksa mereka bereaksi sedemikian
rupa lewat dua revolusi oranye dan Maidan sebagai bentuk perlawanan. Perangkap
Helen bekerja secara ganda: terhadap Rusia yang direnggut kedigdayaannya dari
NATO yang mengekspansi keanggotannya hingga ke timur; dan terhadap Ukraina yang
direnggut kedigdayaannya untuk memiliki identitas sendiri pasca merdeka dari
Uni Soviet. Bekerjanya Perangkap Helen secara ganda menunjukkan bahwa alegori
ini non-partisan karena sifatnya yang menggambarkan kondisi, bukan aktor yang
berperan di dalamnya. Bisa saja Rusia sebagai bangsa Sparta yang direnggut
“Helen”-nya, sehingga mengumpulkan seluruh Yunani untuk menggempur Troya. Bisa
saja Rusia adalah bangsa Troya yang selalu berupaya membenarkan secara buta
dalam merenggut sang “Helen”.
Keluar
dari Perangkap
Jika ada perangkap, maka seharusnya
ada cara untuk keluar dari dalamnya, setidaknya untuk sesegera mungkin
mencegah/menghentikan insiden yang mungkin terjadi seperti perang. Bagaimana
keluar dari Perangkap Helen? Untuk menjawabnya, perlu dijelaskan terlebih
dahulu bahwa argumen Perangkap Helen dibangun di atas asumsi sistem
internasional yang anarkis, yang artinya tidak ada satupun institusi yang dapat
mengatasi kedaulatan tiap-tiap negara yang merdeka. Artinya, Perangkap Helen
adalah situasi yang tidak terhindarkan selama sistem internasional demikian
adanya. Sehingga, negara dapat keluar dari situasi Perangkap Helen, namun tidak
akan lama sebelum masuk kembali ke dalamnya. Rusia dan Ukraina berada dalam
kondisi permusuhan sejak Revolusi Oranye pada 2004 yang menggulingkan
pemerintahan Yanukovich sebagai seorang pro-Rusia, ditambah keinginan Ukraina
untuk bergabung dengan NATO yang membuat ketidakpastian dirasakan oleh Rusia.
Sementara bagi Ukraina, ketidakpastian muncul karena Rusia selalu berupaya
mengintervensi kedaulatan Ukraina, salah satunya dengan menyokong separatis
pro-Rusia di Krimea dan Donbas. Kondisi stalemate ini akan
terus bergulir karena mispersepsi membawa keduanya untuk
secara keras bersikukuh pada pendirian masing-masing. Selama kurang lebih 21
tahun berpisah karena bubarnya Soviet, tentu hubungan keduanya pasang-surut
hingga kini, yang tidak selalu bercorak konfliktual, sebut saja pada saat
Yanukovich memerintah, di mana hubungan Rusia-Ukraina sangat dekat.
Dengan demikian, Perangkap Helen
merupakan fitur dari sistem negara-bangsa dan kedaulatan yang tetap akan ada.
Namun bukan berarti kita tidak dapat keluar dari situasi tersebut. Untuk dapat
keluar, barangkali solusinya adalah dengan mencontoh tokoh Odyseus yang begitu
cerdik dalam Perang Troya. Odyseus seakan memiliki seribu taktik peperangan,
namun yang paling penting dimunculkan dalam wiracrita adalah taktik
kontingensinya. Ia menyusupkan Xanthius sebagai mata-mata yang menyamar menjadi
warga Troya untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya, termasuk membujuk
Helen untuk pulang. Puncaknya, Odyseus yang menyusun strategi Yunani untuk
berpura-pura mundur dari medan perang dan kembali pulang. Padahal ia dan
beberapa pasukan bersembunyi di sebuah patung kuda yang juga berisi berbagai
jenis makanan. Rakyat Troya-pun berpesta; tidak mengetahui Odyseus dan
pasukannya diam-diam keluar dari patung kuda dan menyusup ke dalam istana untuk
kemudian menyeret Helen pulang. Tak disangka, ratusan tentara Yunani bersama
Agamemnon sudah menunggu di pinggir pantai untuk menyerang Troya dan menghabisi
hampir seluruh keluarga kerajaan Troya.
Ya, satu-satunya cara adalah dengan
menyelesaikan peperangan secepat dan secerdik mungkin. Berbagai strategi perlu
diracik agar kalaupun terjadi, perang tidak sampai berlarut. Kedua pihak harus
mengedepankan hukum perang, bukan karena pertimbangan moral, melainkan
efektifitas perang yang penting. Odyseus terkenal dengan kecerdikannya terutama
dalam berdiplomasi, yang secara kontras berbeda dengan Achiles yang lebih
pandai bertempur. Achiles mungkin memang hebat dan tak terkalahkan dalam
berduel dan bertempur, namun Odyseus memiliki strategi lebih
menyeluruh. Bahkan Odyseus dikenal memiliki kecerdasan licik, atau yang dalam
bahasa Yunani disebut metis. Menurut Sun Tzu, bentuk perang
tertinggi adalah mengalahkan musuh tanpa pertempuran. Sebagian besar strategi
Sun Tzu misalnya, dibuat bukan untuk mendorong dua pihak yang berperang untuk
melancarkan serangan-serangan secara head-to-head untuk melihat siapa yang
lebih hebat dalam pertempuran. Strategi perang Sun Tzu justru dibuat untuk
sesegera mungkin mengakhiri perang, kalaupun harus terjadi! Sebagai contoh,
prinsip peperangan sebagai deception, prinsip penghindaran musuh jika terlalu
unggul, dan prinsip penyerangan berbasis kejutan serta titik lemah musuh.
Prinsip ini perlu diresapi sebagai strategi yang maha mengatasi segala
pertempuran yang seringkali merugikan ketimbang menguntungkan. Para pengambil
kebijakan di Moskwa dan Kiev harus mengutamakan diplomasi sebagai bentuk
peperangan paling tinggi.
https://en.tempo.co/read/1567400/helens-trap-in-russia-ukraine-conflict-the-case-of-societal-security-dilemma
Komentar
Posting Komentar