Langsung ke konten utama

The Return of Realism in The Contemporary World?



21 tahun runtuhnya Uni Soviet, 21 tahun runtuhnya Perang Dingin, pembentukan tata dunia baru sudah berjalan sekian lama dalam rentang waktu tersebut. Runtuhnya Uni Soviet meruntuhkan argumen realis dimana tata dunia tidak akan berubah dari bipolarisme yang dianggap dapat menstabilkan perdamaian dunia. Bipolarisme yang sebegitu kuat mengutubkan negara-negara bangsa menjadi dua kekuatan besar dianggap menstabilkan karena dapat menampung kekuatan-kekuatan yang 'berantakan' dan 'berserakan' sehingga kekuatan-kekuatan tersebut tidak 'bermain sendiri' dan saling memakan. Ibarat seorang ibu yang sedang berbelanja, ia menaruh seluruh belanjaannya dalam kantong plastik agar tidak berserakan. Begitu juga dengan bipolarisme, ia meringkaskan kekuatan-kekuatan dalam satu wadah atau kubu. Oleh karena itu dalam Perang Dingin tidak mencuat konflik-konflik internal. Konflik terakomodir dalam satu isu, satu medan, satu cakupan, satu isu, dan dua pemain. Terakomodirnya isu dalam satu 'pintu'  membuat negara-bangsa terkungkung dalam "subordianasi" kedua penguasa, sehingga setelah berakhir, perang dingin menyisakan peledakkan konflik-konflik internal yang sudah tertanam lama. Alhasil isu-isu kontemporer didominasi oleh konflik internal seperti perang antar suku, represi pemerintah, terorisme berkedok agama, dan separatis. Sebab itu menurut pemikir-pemikir realis, keadaan Perang Dingin adalah keadaan yang mendekati ideal.


Pemikir liberal berusaha mengkounter argumen tersebut dengan mempreskripsikan perang dingin sebagai bentuk dari keberhasilan managerialisasi tata dunia anarki oleh negara-bangsa, dengan kata lain anarki yang terjadi tidak sampai melahirkan perang besar atau Perang Dunia ke-3. Pemikir Liberal menganggap sikap kerjasama adalah faktor yang membuat dunia damai dalam kurun waktu 45-90. Pemikiran tersebut diargumenkan dengan kehadiran rezim internasional dalam sistem internasional yang anarki. Neoliberal institusionalisme terutama yang sangat percaya dan yakin akan keberadaan organisasi internasional dan rezim yang berada di bawahnya. Neoliberalinstitusionalisme terutama menekankan bahwa kedaulatan negara yang statecentric dimana menjadi hukum utama yang menjelaskan perilaku internasional, adalah sudah tidak relevan bagi keberadaan dunia kontemporer masa itu. Ketika negara terus menerus membawa kepentingan nasional pada sesuatu yang harus dipertahankan dengan harga mati hingga menghalalkan perang, maka dunia akan kiamat secepat-cepatnya. Sehingga Neoliberal institusionalisme melahirkan adanya keyakinan yang lebih pada keberadaan organisasi internasional beserta rezimnya. Keberadaan organisasi internasional tersebut merupakan jalan tengah win win solution dimana aspek netralitas dianggap dapat mereduksi hingga menyelesaikan konflik antar negara. Namun rupanya para pemikir Neolib Institusional menyadari bahwa pemikiran tersebut banal, karena tidak semua negara mau kedaulatannya diganggu dengan suprastruktur. Ditambah dengan kemungkinan terjadinya deadlock dalam setiap peleraian atau mediasi dari organisasi internasional. Oleh sebab itu Neolib Institusionalisme menggadangkan teori permainan (game theory) sebagai middle range theory yang diutus untuk mengakali interaksi yang sudah akan buntu. Para pemikir tersebut juga melahirkan berbagai teori konflik dan bagaimana menyelesaikannya. Munculnya teori-teori dan metode penyelesaian tersebut merupakan hasil dari rasionalisasi. Mengapa rasional karena konflik selalu dianggap merupakan hasil meterial (materi) yang berinteraksi tanpa adanya kontrol dari manusia. Sehingga konflik akan selalu tanpa ada oknum yang mengcreate; hal tersebut pasti berjalan dengan natural. 


Sistem politk internasional yang sangat rapuh karena terus berganti antara unipolarisme AS dengan multipolarisme Eropa dan NICs, lama-kelamaan terus berdampak pada persiapan masing-masing negara yang terlibat di dalamnya dalam mempersiapkan kapabilitas militer. Hal tersebut membuat adanya pemisahan dimensi ekonomi dan militer secara kasat mata, bahkan secara awam. Setiap negara berlomba untuk menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara militer dengan ekonomi terutama negara-negara besar. Namun, seiring meningkatnya perekonomian di negara dunia ketiga, justru ada kecenderungan timbulnya korelasi yang kuat antara kemajuan ekonomi dan militer. Setiap negara yang ekonominya maju, militernya semakin kuat. Penulis mengatakan secara kasat mata itu tidak terjadi karena secara data tidak dapat ditemukan bahwa terjadi suplai besar2an dari kas negara yang untung oleh perdagangan internasional dengan kemajuan kapabilitas militernya. Setidaknya negara selalu menutupinya dengan mengatakan peningkatan pendapatan dan kas negara harus diimbangi dengan keamanan negara tersebut. 


Fenomena dan gejala tersebut terlihat sebagai kemunculan kembali realisme dalam sistem internasional. Realisme yang sangat anarki, diteruskan idenya dalam neorealisme yang lebih struktural agak hierarkis. Robert Gilpin menyatakan adanya Hegemoni dapat menstabilkan sistem perdagangan dan keamanan dunia. Hal tersebut terlihat dalam unipolar dan multipolar yang seolah sedang memperebutkan tahkta. Di bawah mereka sedang bergulat negara-negara periphery dalam mendiplomasikan kepentingannya atas nama perdamaian dan kestabilan internasioanal. Hal tesebut yang menjadikan pergulatan dan ketegangan mulai mengarah pada perimbangan kekuatan kembali setidaknya 20 - 30 tahun mendatang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Pasca-Strukturalisme: Mendekonstruksikan Diskursus Negara-Bangsa

Oleh: Semmy Tyar Armandha Abstrak Kajian hubungan internasional yang lahir sejak 1919 tidak dapat dilepaskan dari kajian terhadap sistem negara-bangsa. Karena menyinggung hubungan antar-negara, maka negara menjadi titik sentral analisis. Sistem negara-bangsa ini sejatinya telah lahir sejak perjanjian Westphalia pada 1648, yang mengakhiri perang 30 tahun di daratan Eropa. Lahirnya sistem ini kemudian diikuti pula oleh serangkaian revolusi, di antaranya revolusi pencerahan ( aufklärung ), kemudian Renaisans (Renaissance) , dan lahirnya kapitalisme pada revolusi industri di Inggris diikuti lahirnya liberalisme dalam Revolusi Perancis. Munculnya sistem negara-bangsa dengan demikian merupakan salah satu rangkaian terjadinya revolusi-revolusi yang terjadi di abad pertengahan tersebut. Makalah ini sedianya akan mengulas secara singkat bagaimana revolusi-revolusi tersebut dapat melahirkan kajian hubungan internasional, yang dalam terminologi sosiologi-filsafat disebut sebagai era mode...