Langsung ke konten utama

Obyek Wisata Gunung Kumgang, Korea Utara

            Korea Utara dan Korea Selatan yang sejatinya masih dalam keadaan perang sejak 1950, ternyata memiliki hubungan kerjasama pengelolaan obyek pariwisata. Obyek tersebut adalah Pegunungan Kumgang. Pegunungan Kumgang sejatinya berada di wilayah Korea Utara, tepatnya di wilayah Kumgangsan. Gunung ini memiliki ketinggian mencapai 1.638 meter di atas permukaan air laut dan merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Taebaek.
            Obyek wisata ini dikelola oleh Organisasi Pariwisata milik negara (“Ryohaengsa”) di bawah administrasi pemerintahan Korea Utara. Namun, untuk membantu jalannya pariwisata tersebut, Korea Selatan mengizinkan warga negaranya untuk mengunjungi obyek tersebut. Perusahaan Hyundai membangun suatu kawasan wisata khusus untuk mengakomodir turis-turis asing seperti dari Amerika Serikat, Eropa, dan Korea Selatan. [1]
            Obyek wisata Kumgang telah menjadi bagian dari 33,6 % pemasukan negara. Obyek ini telah dikunjungi oleh sekitar satu juta turis dari Korea Selatan hingga Juni 2005. [2]
            Pada 2008, terjadi insiden penembakan terhadap turis Korea Selatan oleh aparat Korea Utara. Hal ini menyebabkan Korea Selatan menghentikan izin mengunjungi obyek wisata ini. Korea Utara bereaksi dengan secara sepihak mengambil asset dari Hyundai, perusahaan yang mengelola obyek wisata tersebut. Tindakan ini sebagai ancaman agar membuka kembali izin bagi turis-turis Korea Selatan untuk berkunjung ke obyek wisata tersebut. Puncaknya pada April 2010, otoritas Korea Utara mengusir pekerja-pekerja Korea Selatan yang masih bekerja di obyek tersebut. [3] Secara politis isu ini menambah ketegangan yang terjadi antara kedua Korea setelah serangan torpedo Korea Utara ke kapal patroli milik Korea Selatan pada 2010. Hal ini menjadikan obyek wisata Gunung Kumgang juga menjadi obyek politisasi dari kedua Korea. Kedua Korea menjadikan obyek wisata ini menjadi alat tawar jika terjadi kontak senjata.
            Namun di balik ketegangan dan politisasi di kawasan tersebut, terdapat kisah sosial yang emosional dimana kawasan wisata tersebut direncanakan menjadi tempat pertemuan kembali keluarga-keluarga kedua Korea yang telah terpisah akibat perang terbuka Korea 1950-1953. Rencana tersebut ditanggapi positif oleh pihak Korea Selatan dan sudah mulai diterapkan sejak September 2010.  [4]
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Pasca-Strukturalisme: Mendekonstruksikan Diskursus Negara-Bangsa

Oleh: Semmy Tyar Armandha Abstrak Kajian hubungan internasional yang lahir sejak 1919 tidak dapat dilepaskan dari kajian terhadap sistem negara-bangsa. Karena menyinggung hubungan antar-negara, maka negara menjadi titik sentral analisis. Sistem negara-bangsa ini sejatinya telah lahir sejak perjanjian Westphalia pada 1648, yang mengakhiri perang 30 tahun di daratan Eropa. Lahirnya sistem ini kemudian diikuti pula oleh serangkaian revolusi, di antaranya revolusi pencerahan ( aufklärung ), kemudian Renaisans (Renaissance) , dan lahirnya kapitalisme pada revolusi industri di Inggris diikuti lahirnya liberalisme dalam Revolusi Perancis. Munculnya sistem negara-bangsa dengan demikian merupakan salah satu rangkaian terjadinya revolusi-revolusi yang terjadi di abad pertengahan tersebut. Makalah ini sedianya akan mengulas secara singkat bagaimana revolusi-revolusi tersebut dapat melahirkan kajian hubungan internasional, yang dalam terminologi sosiologi-filsafat disebut sebagai era mode...