Langsung ke konten utama

Sekilas Mengenai Geopolitik

Dalam kajian hubungan internasional, sebelum lahirnya teori-teori dan paradigma kerjasama, adalah geopolitik yang merupakan konsep yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan pemetaan interaksi antar negara, khususnya pasca-perjanjian Westphalia.  Geopolitik lahir dari inspirasi dari konstelasi  abad 19, yakni ketika era concert of Europe menjadi tatanan yang dominan di tataran global, Inggris, Perancis, dan Jerman secara bergantian melakukan dominasi kepemimpinan imperialistik. Dominasi imperialistik ini yang merupakan praktik geopolitik pertama yang ada dalam praktik hubungan luar negeri. Hubungan perdagangan boleh jadi dilakukan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan negara-negara pada saat itu, termasuk datangnya VOC ke Indonesia. Namun geopolitik merupakan praktik kebijakan luar negeri yang paling taktis guna mencapai stabilitas internasional pada saat itu.

Adapun Geopolitik merupakan konsep yang memungkinkan pengambil keputusan dan kebijakan melakukan pemetaan terhadap kekuatan politik negara lain berdasarkan letak geografis. Pemetaan ini didasarkan pada kondisi geografis; di dalamnya termasuk faktor demografi, sumber daya alam, teritorial, kontur wilayah, dan sebagainya-yang berkenaan langsung dengan teritorialitas. Untuk mencapai tujuan kepentingan nasional yang sesuai pemetaan tersebut, lantas dilakukan pembentukan geostrategi, yakni menggunakan hasil pemetaan untuk membuat strategi. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyeseuaikan kepentingan nasional masing-masing negara agar memungkinkan dicapai dengan bentuk geografi.

Ide mengenai geopolitik dicetuskan pertama kali oleh Rudolf Kjellen, ilmuwan politik Swedia pada periode 1936-1944 yang diteruskan oleh Friederich Ratzel, seorang seorang geografer Jerman. Ide mengenai geopolitik diawali oleh konsep living space (libenstraum, dalam bahasa Jerman), yakni gagasan mengenai ruang hidup. Ruang hidup (libenstraum) merupakan benda fisik yang didiami oleh suatu populasi (negara) berupa alam, lokasi, ukuran/luas, dsb. Ide libenstraum lalu dikaitkan dengan kebutuhan untuk selalu melakukan perluasan terhadapnya. Ruang hidup dianggap akan semakin habis oleh praktik kenegaraan dan kegiatan manusia di dalamnya seperti industrialisasi, perdagangan, dan ekspansi pemukiman. Hal ini dengan demikian menciptakan justifikasi bagi negara untuk memperluas teritorialnya dengan praktik imperial (menjajah negara lain).

Dari perspektif ekonomi politik, geopolitik tak ubahnya sebuah praktik yang muncul akibat ketidak-selarasan kebijakan ekonomi global yang pada saat itu didominasi oleh praktik merkantilisme (proteksionisme ekonomi), dan tidak adanya rezim internasional yang mampu menarik kedaulatan dalam harmonisasi kepentingan. Dengan adanya geopolitik, praktik imperialisme mendapatkan pembenarannya, karena geopolitik selalu bergerak berdasarkan asumsi realpolitik: yakni politik yang amoral, self-help, dan anarki (seperti dalam pemikiran realisme). Setelah Perang Dunia II, praktis rezim Bretton Woods yang melahirkan IMF, IBRD, dan GATT, menjadi tumpuan harapan bagi hubungan internasional agar praktik geopolitik dapat dikurangi.

Dari pemaparan singkat tersebut harus dibedakan antara dua jenis geopolitik: pertama geopolitik itu sendiri yakni sebagai pemetaan terhadap faktor geografis guna mencapai tujuan-tujuan politis bagi kehidupan domestik maupun internasional. Kedua, adalah geografi politik, yakni pemetaan terhadap praktik kenegaraan yang digerakkan oleh praktik politik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Perangkap Helen dalam Konflik Rusia-Ukraina? Kasus Dilema Keamanan Sosietal

  By Semmy Tyar Armandha  |   Research Fellow, Prakerti Collective Intelligence K onflik Rusia-Ukraina yang saat ini memuncak pada operasi militer skala penuh,  telah mengundang respons, salah satuya upaya untuk menganalisis situasi yang terjadi. Setidaknya terdapat dua sudut pandang analogis yang  mengemuka. Pertama, pandangan bahwa Rusia akan seperti Jerman yang menganeksasi Sudentenland (bagian dari Cekoslovakia) pada 30 September 1938, dengan alasan wilayah tersebut dihuni oleh warga keturunan Jerman. Padahal sehari sebelumnya, Jerman bersama-sama dengan Inggris, Perancis dan Italia telah menyepakati Perjanjian Munich dalam penyerahan wilayah tersebut secara damai; manuver ini kemudian memicu Perang Dunia II. Kedua, pandangan yang menyebutkan posisi Rusia saat ini mirip dengan posisi Amerika Serikat saat bersi tegang  dengan Uni Soviet pada 1962. Soviet mengirim  misil-misil nuklir  ke  Kuba dalam rangka mempertahankannya...