Langsung ke konten utama

Postingan

Pasca-Strukturalisme: Mendekonstruksikan Diskursus Negara-Bangsa

Oleh: Semmy Tyar Armandha Abstrak Kajian hubungan internasional yang lahir sejak 1919 tidak dapat dilepaskan dari kajian terhadap sistem negara-bangsa. Karena menyinggung hubungan antar-negara, maka negara menjadi titik sentral analisis. Sistem negara-bangsa ini sejatinya telah lahir sejak perjanjian Westphalia pada 1648, yang mengakhiri perang 30 tahun di daratan Eropa. Lahirnya sistem ini kemudian diikuti pula oleh serangkaian revolusi, di antaranya revolusi pencerahan ( aufklärung ), kemudian Renaisans (Renaissance) , dan lahirnya kapitalisme pada revolusi industri di Inggris diikuti lahirnya liberalisme dalam Revolusi Perancis. Munculnya sistem negara-bangsa dengan demikian merupakan salah satu rangkaian terjadinya revolusi-revolusi yang terjadi di abad pertengahan tersebut. Makalah ini sedianya akan mengulas secara singkat bagaimana revolusi-revolusi tersebut dapat melahirkan kajian hubungan internasional, yang dalam terminologi sosiologi-filsafat disebut sebagai era mode...

Praxiography dalam Perkembangan Metodologi HI [Ulasan Christian Bueger]

Ilmu HI yang terus-menerus berkembang di era globalisasi kini semakin menuntut kemampuannya dalam menjawab persoalan kehidupan sehari-hari manusia. Di tengah konstelasi politik nasional dan internasional yang sedang mengalami krisis, ilmu HI dituntut untuk memecahkan problem tersebut dalam berbagai kajian dan teorisasinya. Krisis yang menerpa berbagai belahan dunia sekarang ini dimana paradigma neoliberal dianggap sudah usang dan harus diperbaharui, semakin menciptakan titik keejenuhan yang tinggi. Konservatisme dan neo-konservatisme semakin populer. Keinginan untuk mengembalikan jati diri negara masing-masing lewat budaya dan identitas semakin tinggi. Bahkan upaya politik imperium semakin banyak dianut oleh berbagai negara termasuk Indonesia. Hal ini menggambarkan konstelasi global pasca-Perang Dingin dan pasca-Tragedi 9/11 akan segera berevolusi dalam jangka waktu yang dekat.  Hal ini menuntut ilmu HI untuk semakin mampu menghasilkan analisis yang menyentuh akar rumput. Tid...

Neoliberal-Institusionalisme

            Perdebatan besar ( great debate ) ketiga dalam ilmu hubungan internasional terjadi antara paradigma neorealisme dan neoliberal-institusionalisme. Adapun perdebatan tersebut lahir dari argumentasi kaum liberal yang berasumsi bahwa ditengah konstelasi dunia yang semakin terglobalisasi, maka potensi kerjasama perlahan-lahan akan menggeser situasi dunia yang konfliktual (seperti yang diasumsikan oleh realisme). [1] Deretan pemikir liberal-institusionalis ini  mengkritik pemikiran realisme yang terlalu menganggap serius sifat dunia yang anarki sehingga relasi negara akan selalu diwarnai saling curiga. Liberal-institusional tidak menafikkan bahwa dunia adalah anarki, namun ditengah ke-anarki-annya, sangat dimungkinkan terjadinya kerjasama dalam hubungan antar negara, sehingga anarki sejatinya dapat diatur (di- manage ) sedemikian rupa agar menjadi situasi yang kooperatif. [2]       ...

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pasca-Fordisme, Tatanan Ekonomi Global, dan Perubahan Perilaku Konsumen Pasca Krisis

The fundamental impulse that sets and keeps the capitalist engine in motion comes from the new consumers' goods, the new methods and production or transportation, the new markets, the new forms of industrial organisation that capitalist enterprise creates -Joseph Schumpeter, (1979:83)- Pendahuluan Krisis ekonomi global yang terjadi secara periodik sejak berakhirnya Perang Dunia II setidaknya memiliki fiturnya masing-masing yang mencirikan adanya perubahan pada masa tertentu. Perubahan perilaku konsumen (khususnya di negara maju) disebut sebagai salah satu fitur perubahan dalam 25 tahun terakhir perjalanan ekonomi global. Perubahan tersebut dispesifikasikan dengan yang disebut perilaku konsumen baru. Perubahan perilaku tersebut merupakan dampak dari berubahnya kebijakan ekonomi akibat krisis atau peristiwa lain yang bersifat abnormal : perekonomian mengalami stagnasi dan struktur sosial di dalamnya mengalami perubahan. Kondisi ini, dimana terjadi kontradik...