Langsung ke konten utama

Ancaman Krisis Minyak Setelah Revolusi Afrika dan Timur Tengah

Serangan yang dilancarkan militer koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis telah terjadi dan meluluhlantakan sebagian Tripoli dan membumihanguskan kediaman Presiden Libya Moamar Khadafi, Serangan ini merupakan hasil dari resolusi DK PBB no. 1973 yang berisi larangan terbang militer Moammar Khadafi. Dalam resolusi tersebut larangan terbang ditujukan untuk melindungi warga sipil dari serangan militer Moammar Khadafi. Serangan ini praktis membuat Khadafi naik pitam dan menyatakan akan menyerang balik.

Dari peristiwa ini munculah kontroversi di beberapa negara khususnya negara-negara besar dan negara-negara di Timur Tengah. Seperti dilansir di surat kabar, dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 5 negara menyatakan abstain yaitu Rusia, China, Jerman, Brasil, dan India. Di Rusia, Perdana Menteri Vladmir Putin mengecam tindakan Militer Koalisi menyerang pasukan Khadafi karena dianggap sebagai "ajakan perang salib" (Kompas, 23 Maret 2011) model baru. Presiden Rusia Dimitry Medvedev dikabarkan tidak sepaham dengan Putin. Keadaan ini sedikit banyak menimbulkan ketidaksepahaman dalam penindakan terhadap Libya. ketidaksepahaman ini lazim dalam lahirnya sebuah kebijakan luar negeri. Dalam teori poliheuristic, dijelaskan bahwa pertimbangan dari luar negara atau level sistem lebih ke arah rasionalisasi. Artinya jika tidak sejalan dengan kepentingan dan rasionalitas (untung rugi), maka kebijakan tidak akan dibuat mendukung suara mayoritas sekalipun. Mengingat serangan Militer Koalisi bersifat me namun terdapat masalah yang lebih besar yang cukup mengancam ketahanan yaitu pengelolaan minyak di Libya.

Jatuhnya rezim otoritarian di Afrika Utara dan Timur Tengah seperti mengulang cerita reformasi yang terjadi di Indonesia pada 1997-1998. Hadirnya rezim demokrasi sepertinya tidak membawa hasil semanis yang pernah rezim orde baru ciptakan. Rezim orde baru relatif membawa ketertiban politik dan membawa keamanan dan kesejahteraan rakyat, meskipun kebebasan politik dikekang. Hal ini menimbulkan asumsi bahwa negara dunia ketiga memang tidak bisa melepaskan gaya kepemimpinan otoritarian. Di Afrika yang notabene bangsa dunia ketiga yang sebenarnya tidak butuh demokrasi, kita bisa melihat sejahteranya rakyat Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya namun mereka tidak demokratis. Di Libya yang sangat otoriter ,mengapa revolusi baru terjadi. Keadaan masyarakat Libya tidak sepenuhnya miskin dan terbelakang. Namun di ranah politik, demokrasi ditekan sedemikian rupa dan menghasilkan kejenuhan yang sangat tinggi.

Lalu apa hubungan dengan pengelolaan minyak. Pertayaan yang sebenarnya bisa kita kerucutkan lagi adalah apakah setelah demokrasi mucul sebagai alternatif dari rezim otoritarian, pengelolaan minyak akan sebaik ketika dulu masih otoriter? Jika berkaca dari apa yang terjadi di Indonesia 12 tahun yang lalu, cukup mengkhawatirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Cuma ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi: Pengelolaan bisa jadi lebih terbengkalai karena ada potensi perebutan antar pihak domestik; atau pengelolaan minyak direbut oleh pasukan koalisi yang mengklaim telah menyelamatkan rakyat Libya. Jika ini terjadi pasokan minyak ke negara-negara dunia ketiga akan semakin terhambat dan krisis ekonomi akan mendera negara-negara hingga negara-negara industri baru. Kita harus sadar bahwa krisis minyak sudah di depan mata kita, selain dari faktor degradasi lingkungan hidup dan krisis sumber daya alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Perangkap Helen dalam Konflik Rusia-Ukraina? Kasus Dilema Keamanan Sosietal

  By Semmy Tyar Armandha  |   Research Fellow, Prakerti Collective Intelligence K onflik Rusia-Ukraina yang saat ini memuncak pada operasi militer skala penuh,  telah mengundang respons, salah satuya upaya untuk menganalisis situasi yang terjadi. Setidaknya terdapat dua sudut pandang analogis yang  mengemuka. Pertama, pandangan bahwa Rusia akan seperti Jerman yang menganeksasi Sudentenland (bagian dari Cekoslovakia) pada 30 September 1938, dengan alasan wilayah tersebut dihuni oleh warga keturunan Jerman. Padahal sehari sebelumnya, Jerman bersama-sama dengan Inggris, Perancis dan Italia telah menyepakati Perjanjian Munich dalam penyerahan wilayah tersebut secara damai; manuver ini kemudian memicu Perang Dunia II. Kedua, pandangan yang menyebutkan posisi Rusia saat ini mirip dengan posisi Amerika Serikat saat bersi tegang  dengan Uni Soviet pada 1962. Soviet mengirim  misil-misil nuklir  ke  Kuba dalam rangka mempertahankannya...