Revolusi berarti perubahan secara mendasar dan umumnya bersifat masif serta melibatkan berbagai elemen lapisan masyarakat. Revolusi juga berarti perubahan yang cepat atas ketidakpuasan terhadap sistem yang telah berjalan. Konflik yang terjadi di Afrika Utara dan Timur Tengah menunjukkan ada yang harus diubah dan ada sesuatu yang memaksa perubahan harus segera dilaksanakan. Namun, pertanyaan yang menggelitik adalah siapa yang menginginkan perubahan tersebut terjadi? Siapa yang memicu dan mendalangi di balik semua pemberontakan tersebut? Apa kepentingan yang mendasari tindakan tersebut?
Setidaknya menurut media massa dan para pakar, Tunisia menjadi negara entry point dari perubahan besar yang terjadi di Timur Tengah. Jatuhnya kekuasaan Ben Ali menjadi pemicu dan penginspirasi beberapa gerakan pro-perubahan negara-negara di kawasan tersebut. Gerakan perubahan umumnya membawa jargon pro-demokrasi, yang sudah muak akan rezim otoritarian yang telah menekan kebebasan berpolitik. Semua terjadi dengan cepat dan beruntun bak deretan kartu domino yang jatuh. Di Mesir, Presiden Mubarak yang berkuasa lebih kurang 31 tahun dijatuhkan pula oleh rakyat dan oposisi selama lebih kurang 2 bulan lamanya. Bersamaan dengan jatuhnya dua rezim tersebut, Yaman, Yordania, Arab Saudi, Iran, Oman, dan Sudan sudah mulai memanas aksi demonstrasi menuntut pemerintahan yang lebih terbuka dan peningkatan kesejahteraan.
Di Libya, sudah terjadi perang saudara yang melibatkan penentang dan pendukung Presiden Moammar Khadafi yang sudah berkuasa selama 41 tahun. Data menunjukkan 1000 orang lebih tewas dalam kekerasan di salah satu negara penghasil minyak tebesar di dunia ini. Dunia internasional geram melihat tindakan represif Khadafi dan menekannya agar segera turun dari kursi kekuasaan demi terciptanya stabilitas, dan mulai memberikan sanksi terhadap Libya. Amerika Serikat dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi zona larangan terbang. PBB membekukan keanggotaan Libya. Uni Afrika sebagai organisasi kawasan tempat bernaungnya Libya telah membekukan pula keanggotaan Libya.
Keadaan ini lantas menimbulkan teka-teki mengenai siapa yang paling diuntungkan dari revolusi ini dan siapa yang paling berkepentingan terhadap demokratisasi kawasan ini. Mengingat selama kurang lebih setengah abad yang lalu, rezim-rezim ini sangat mendapatkan dukungan dari rakyatnya.
Menurut Karl Marx, konflik dapat terjadi akibat adanya dominasi dari kelas atas terhadap kelas bawah. Kelas bawah merasa bahwa sumber daya sangat dikuasai kelas atas yang tidak memungkinkan kelas bawah melakukan mobilitas sosial atau secara horizontal naik ke level setingkat di atas mereka. Kemudian menurut Emile Durkheim, konflik dapat terjadi akibat fungsi organ-organ negara atau masyarakat yang tidak berjalan dan tidak saling mendukung. Jadi, struktur sosial diumpamakan sebagai organ-organ tubuh manusia yang mempunyai fungsi masing-masing namun berhubungan dan salingketergantungan. Jika salah satu tidak berfungsi, maka organ yang lain akan terganggu. Dari kedua pemikiran di atas, setidaknya dapat menggambarkan adanya ketidakseimbangan dan intimidasi yang tercipta dari pihak yang mempunyai kekuatan yang lebih besar sehingga memicu suatu perlawanan dari pihak yang merasa tertekan. Di Tunisa dan Mesir yang rezimnya berhasil dijatuhkan, pemimpin yang sudah sangat lama berkuasa, tidak membuka kesempatan bagi pihak lain untuk naik dan terlibat dalam politik. Terlepas dari sengaja atau tidak sengaja, mereka di masing-masing negara yang dipimpinnya telah membangun rezim kuat bersifat otokrasi dan telah menyerap cukup banyak kekayaan negara. Ini menimbulkan kesenjangan antara pemimpin dan yang dipimpin. Selain itu pemimpin tidak hanya melibatkan dirinya sendiri, tetapi juga keluarga dan kerabat dalam menyerap kekayaan negara. Hal ini yang menyebabkan rakyat merasa dipinggirkan dan berupaya melakukan pemberontakan.
Terjadinya krisis pangan dan melonjaknya harga kebutuhan secara signifikan di kawasan Afrika dan Timur tengah telah menambah masalah dan krisis multidimensial seperti yang terjadi di Asia Tenggara khususnya Indonesia pada 1998 yaitu pada saat terjadinya reformasi. Depresi yang melanda rakyat kemudian ditambah dengan tekanan akan kebebasan politik, yang dapat terlihat pada ditekannya kelompok oposisi dan kelompok Ikhwanul muslimin (moslim brotherhood) di Mesir. Ditekannya kelompok ini menyebabkan salah satu organ pengontrol pemerintah tidak berfungsi. Hal inilah yang menyebabkan rakyat semakin marah dan menginginkan Mubarak turun. Kemudian ditambah pula dengan niat Mubarak untuk menyiapkan putranya sebagai penerus.
Komentar
Posting Komentar