Langsung ke konten utama

Analisa Perbandingan Sistem Politik Israel dan Rusia

Pendahuluan


Israel dan Rusia adalah dua negara dengan sistem politik yang sama yaitu parlementer. Kedua Negara ini dipimpin oleh kepala Negara dan kepala pemerintahan. Kepala Negara adalah presiden dan kepala pemerintahan adalah perdana menteri. Israel mempunyai banyak partai begitu pula Rusia. Namun kedua Negara ini tidak sepaham dalam ideology. Rusia menganut komunis dan Israel menganut demokrasi.
Israel menganut parlemen unicameral atau satu kamar perwakilan rakyat disebut dengan Knesset yang dipilih 4 tahun sekali dengan cara pemilihan langsung dengan suara  terbanyak. Sedangkan Rusia menganut bicameral atau dua kamar perwakilan dengan nama Federal Assembly or Federalnoye Sobraniye yang terdiri dari Dewan Atas dan Dewan bawah.
            Presiden Israel dipilih setiap 5 tahun sekali dan boleh dipilih hingga 2 kali. Presiden dipilih oleh legislatif dengan mekanisme kendali partai-partai yang berhasil menduduki parlemen. Sedangkan Rusia memilih presidennya setiap 4 tahun.
Melihat persamaan dan perbedaan di atas, kedua Negara tersebut dapat dilakukan perbandingan dengan tujuan melihat bagaimana proses politik yang terjadi dalam rangka pengambilan keputusan. Dalam paper singkat ini, penulis menggunakan kerangka kerja David Easton dalam teori sistem untuk melihat proses terbetnuknya kebijakan sebagai perbandingan.

Pengambilan Keputusan
            Dalam rangka mengartikulasikan kepentingan yang diperoleh melalui permintaan, Israel memiliki mekanisme parlemen yang lebih dominant, dengan kata lain keputusan perdana menteri sangat ditentukan dan didukung oleh parlemen. Jika Parlemen tidak setuju, maka keputusan PM  tidak dapat dijalankan. Sedangkan Rusia di bawah kepemimpinan Vladmir Putin dari 2000-2008 menjadikan struktur pemerintahan yang lebih terpusat. System ini mampu diterima masyarakat karena memberikan kesejahteraan dengan menarik ribuan rakyat dari kemiskinan.[1]
            Vladimir Putin menghilangkan system pemilihan gubernur dan menggantinya dengan penunjukkan oleh presiden langsung. Dalam masanya, Presiden terlihat sangat dominant dibandingkan perdana menteri bahkan kepada badan legislative dan yudikatif. Namun peran Putin sangat kental di mata rakyatnya yang dianggap mampu mengangkat nama Rusia kembali ke tataran Internasional. Mengapa sistem non-demokrasi yang cenderung otoriter ini bisa diterima seperti negara-negara demokrasi yang bebas pada umumnya?
            Dari kerangka kerja Easton, permintaan (demand) yang merupakan input diproses dengan cara yang sangat popular dan sangat mengartikulasikan kepentingan nasional. Sehingga pada saat kebijakan atau output dilaksanakan sebagai timbal balik (feedback), maka permintaan tadi telah menjadi dukungan.  Disini faktor kepemimpinan Putin adalah sebagai variabel yang menentukan keberhasilan pemerintahan yangh ia pimpin. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari masih berpengaruhnya Putin di pemerintahan walau hanya menjabat Perdana Menteri.
            Rusia telah mengangkat dirinya kembali pada masa pemerintahan Putin dengan berada pada posisi ke 3 cadangan devisa terbanyak. Kemudian 20 juta orang yang terangkat dari kemiskinan menjadi faktor keberhasilan lain yang terus mengangkat kepemimpinan Putin. Dalam analisa kebijakan luar negeri dikenal variable ideosinkretik atau variable personal dalam hal ini seorang pemimpin.
 Jadi, sistem politik yang dianut kedua negara tidak menjamin keberhasilan suatu pemerintahan di bawah kepeminmpinan siapapun. Proses politik sangat menentukan dalam mengartikulasikan tuntutan dan dukungan menjadi kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan sehingga kebijakan tersebut dapat terus berubah menjadi timbal balik yang berubah menjadi dukungan. Rusia adalah contoh negara yang berhasil menerapkan otoritarianisme tanpa menghalangi rakyat untuk berusaha tetapi pemerintah berusaha mengangkat rakyat dari kemiskinan dan ketidakberdayaan.



[1] Dubes RI untuk Rusia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Perangkap Helen dalam Konflik Rusia-Ukraina? Kasus Dilema Keamanan Sosietal

  By Semmy Tyar Armandha  |   Research Fellow, Prakerti Collective Intelligence K onflik Rusia-Ukraina yang saat ini memuncak pada operasi militer skala penuh,  telah mengundang respons, salah satuya upaya untuk menganalisis situasi yang terjadi. Setidaknya terdapat dua sudut pandang analogis yang  mengemuka. Pertama, pandangan bahwa Rusia akan seperti Jerman yang menganeksasi Sudentenland (bagian dari Cekoslovakia) pada 30 September 1938, dengan alasan wilayah tersebut dihuni oleh warga keturunan Jerman. Padahal sehari sebelumnya, Jerman bersama-sama dengan Inggris, Perancis dan Italia telah menyepakati Perjanjian Munich dalam penyerahan wilayah tersebut secara damai; manuver ini kemudian memicu Perang Dunia II. Kedua, pandangan yang menyebutkan posisi Rusia saat ini mirip dengan posisi Amerika Serikat saat bersi tegang  dengan Uni Soviet pada 1962. Soviet mengirim  misil-misil nuklir  ke  Kuba dalam rangka mempertahankannya...