Langsung ke konten utama

Review Buku “Asia, America, and the Transformation of Geopolitics” Penulis : William H. Overholt

China

Lemahnya kekuatan China dan Korea adalah penentu utama dalam konstelasi dunia yang sedang berperang pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Kevakuman China dan Korea dalam percaturan dunia adalah faktor yang menyebabkan agresifnya Jepang.  Faktor tersebut merupakan kutukan bagi Amerika Serikat, namun seiring meningkatnya China dan Korea sebagai kekuatan besar, Amerika Serikat mulai merasakan manfaat dari kehadiran China dan Korea.
Ketakutan yang timbul di China lahir dari kombinasi kediktatoran sosialis Chiang Kai-shek, Leninis, dan Partai Guomindang yang dikontrol Uni Soviet. Dengan berniat membangun teknologi, masyarakat, dan ekonominya, China menerapkan sosialis untuk ekonominya dan leninisme untuk politiknya. Leninisme merupakan metoda mengontrol politik dan sosialis adalah metoda menguasai sumber daya oleh pemimpinya. Cara tersebut berhasil menyatukan China yang terdisintegrasi selama 2 abad. Partai Guomindang juga berhasil merambah ke area pedesaan dan area lebih dalam lagi untuk menggerakan Long March dan mengontrol gerakan sosialis di Filipina, Thailand, dan Malaysia.
Gerakan Chiang kemudian dicegah oleh invasi Jepang.
Inti pandangan dari paham Revolusi Maois adalah: jika kau membunuh landlords, rakyat akan makmur; jika kau membunuh birokrat, masyarakat akan maju tanpa hambatan; dan jika kau memusnahkan orang asing, kemurnian lokal akan mewujudkan kesatuan dan kejayaan.
Meskipun kekuatan Mao datang dari rakyat petani dan intervensi Jepang lebih dari budaya China atau ideoogi Leninis, gerakan bersejarah memberikan Mao tidak hanya kekuatan, tapi juga kemampuan untuk menorehkan China dalam gambaran figurnya sendiri.
Setelah kemenangan komunis di China pada 1949, Mao mencoba menandingi sistem sosialisme Uni Soviet. Tidak dengan menirunya sama persis, Mao kemudian menyebut sistem sosialis China sebagai reinkarnasi sistem sosialis Uni Soviet yang diperbarui.
Pergerakan Mao pada periode ini menjadi seperti Samson, berusaha menghancurkan tatanan global . Mao Mengobarkan semangat melawan segala institusi Amerika Serikat seperti GATT, IMF, World Bank, dan sistem aliansi AS.

Gerakan Mao ini kemudian mendapat perlawanan dari Deng Xao Ping karena Revolusi kebudayaan ternyata membawa kehancuran pada petani-petani, pekerja dan buruh.
            Selama beberapa tahun, China tidak hanya berjalan dengan beragam pemimpin berbeda namun juga sistem yang berbeda meskipun tetap dikontrol oleh satu partai otoritas yaitu Partai Komunis China.
Mengahadapi kehancuran, setelah pengetatan birokrasi di Uni Oviet dan Revolusi kebudayaan di China, dua negara ini mengambil cara yang berbeda. Sistem soviet menjadi terlembagakan dan terus mengalami kemunduran hingga kehancuran di bawah Gorbachev. Sedangan China tidak melembagakan sistemnya dan terus mengambil manfaat dari kearismatikan sosok Mao.
Deng Xiao Ping secara pintar memanfaatkan kearismatikan sosok Mao sebagai tokoh diktator untuk membangun kepercayaan rakyat dengan masih menyimpan pemikiran Mao di otaknya.
Deng mengajak orang yang berbeda pemikiran tetapi memiliki massa untuk mencegah terjadinya perlawanan yang merusak. Deng mencontoh negara-negara yang berhasil seperti Korea Seatan, Hongkong dan Taiwan dan muai bergabung dengan institusi pembangunan AS seperti IMF, Bank Dunia, ADB, dan WTO.
China di bawah kepemimpinan Deng kemudian terus menerus mengembangkan langkah negara. Deng dengan filosofinya “tidak masalah apapun warna kucing selama ia bisa menangkap tikus”. Deng mulai mengadopsi berbagai sistem yang dipakai oleh negara-negara maju seperti sistem akuntansi berstandar internasonal, mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, mengadopsi sistem pertukaran mata uang Singapura, mengadopsi sistem portofolio investasi Taiwan, mengadopasi sistem Bank sentral AS The fed, dan yang paing fundamental adaah direkrutnya pejabat asing untuk meningkatkan kapabilitas China dalam sektor ekonomi.
            China memakai cara yang gradual dalam mengembangkan ekonominya. Di sini berarti China secara bertahap melepaskan  produknya ke pasar. Tidak seperti Eropa dan AS. Tindakan ini sedikit banyak mendapat tentangan. Jeffrey Sachs dan World Bank mencoba menekan China yang menjalankan mekanisme gradualismenya tersebut. Sampai terbentunya Konsensus Washington sebaga alat bagi poitisi, praktisi hukum dan pelaku ekonomi Eropa dan AS untuk menekan gradualisme China.
            Saat China sedang bertahap mengubah paradigma ekonominya, dalam periode terebut negara-negara barat akan terus mencela tindakan China tersebut sampai China benar-benar mengadopsi asas demokrasi dan keterbukaan seluas-luasnya.
           
Kesan Politik Barat dan Realitas China

            Kesan yang dtimbuan China sebagai negara suskesor Uni Sovet membuat China sering dicurigai memiliki pretensi untuk mengekspansi wilayah negaranya. Oleh karena itu sering terjadi masalah perbatasan dengan tetangga-tetangganya termasuk Jepang dan India.
            Kesan lain adalah : kekeras-kepalaan China dalam mempertahankan sistem politik sosialis kunonya.
            Gradualisme yang diterapkan China pada ekonominya mendapatkan cemoohan dari banyak pengamat. Jeferey Sachs mengatakan harus ada “sock terapi” bagi negara yang mau menumbuhkan perekonomiannya. Padahal fakta mengatakan bahwa sock terapi sering menimbulkan dampak yang traumatis bagi rakyatnya.
            Inkrementalisme China bukan berarti kelambanan dalam mereformasi. Pemimpin dalam cara ini berpikir sebelum mengambil tindakan dan melakukan test lapangan setelah itu secara bertahap mulai mengambil tindakan yang sangat nyata.
            Pemimpin-pemimpin China saat ini memiliki berbagai latar belakang baik imgran, terpelajar, tak berideologi, maupun yang terfokus pada peningkatan ekonomi dan memiliki banyak perbedaan nilai dengan para pendahulunya. Globalisasi telah menggantikan anti-asing. Seseorang dilihat dari kemampuan, bukan dari ideologinya. Pemimpin-pemimpin mengambil keputusan dengan terlebih dahulu melakukan konsultasi panjang dengan partai-partai yang berkepentingan. Pemilihan Umum dan mekanisme akuntabilitas banyak bermunculan. Di desa-desa diadakan pemilu. Dengan partai, pemilu diadakan di setiap level, dengan bermacam kandidat. Ketika China mulai dengan masih mempertahankan ketidakbebasan dan ketidakdemokratisan membuat kebebasan bicara dan mekanisme konsultasi dalam pengambilan keputusan adalah sebuah langkah yang sama dilakukan oleh Korea Seatan dan Taiwan yang sekarang lebih demokratis dari Jepang.
           



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Finansialisasi Kapitalisme [Paradox of Finance Capitalism]

"It's not a question of worrying or hoping for  the  best,  but of finding new weapons.." - Giles Deleuze- Menyambut penghujung tahun 2011, berbagai kaleidoskop telah diluncurkan: mulai dari gosip, peristiwa membanggakan, fenomena, hingga tragedi dan katastropi mewarnai perjalanan tahun 2011. Namun bagi penulis, krisis ekonomi global 2008 yang dimulai dari krisis kredit perumahan ( subprime mortagage ) merupakan peristiwa yang fenomenal, fundamental, dan monumental. Mengapa? Karena krisis ini membawa dunia pada pertanyaan-pertanyaan baru: seperti apakah kondisi perekonomian dunia hingga 5, 6, 7 hingga 20 tahun ke depan? Siapa sajakah yang dapat bertahan dari krisis ini? Apa yang akan dilakukan mereka yang bertahan dari krisis? bagaimana pemetaan politik dan ekonomi global pasca-krisis ini? Lebih jauh, apakah yang akan terjadi setelah adanya perubahan total pemetaan politik global pasca-krisis? Penulis "mengalamatkan" semua pertanyaan itu pada gaya hidup ...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Perangkap Helen dalam Konflik Rusia-Ukraina? Kasus Dilema Keamanan Sosietal

  By Semmy Tyar Armandha  |   Research Fellow, Prakerti Collective Intelligence K onflik Rusia-Ukraina yang saat ini memuncak pada operasi militer skala penuh,  telah mengundang respons, salah satuya upaya untuk menganalisis situasi yang terjadi. Setidaknya terdapat dua sudut pandang analogis yang  mengemuka. Pertama, pandangan bahwa Rusia akan seperti Jerman yang menganeksasi Sudentenland (bagian dari Cekoslovakia) pada 30 September 1938, dengan alasan wilayah tersebut dihuni oleh warga keturunan Jerman. Padahal sehari sebelumnya, Jerman bersama-sama dengan Inggris, Perancis dan Italia telah menyepakati Perjanjian Munich dalam penyerahan wilayah tersebut secara damai; manuver ini kemudian memicu Perang Dunia II. Kedua, pandangan yang menyebutkan posisi Rusia saat ini mirip dengan posisi Amerika Serikat saat bersi tegang  dengan Uni Soviet pada 1962. Soviet mengirim  misil-misil nuklir  ke  Kuba dalam rangka mempertahankannya...