Langsung ke konten utama

Postingan

Pengaruh Kepemimpinan Hugo Chavez dalam Transformasi Konflik dengan Kolombia Studi Kasus Tudingan Kolombia terhadap Venezuela Terkait Perlindungan Gerakan Perlawanan Marxis (FARC) Kolombia

Ringkasan Eksekutif           Meningkatnya tensi ketegangan diplomatik di kawasan Amerika Selatan antara Venezuela dan Kolombia 2010 lalu merupakan puncak dari tuduhan Kolombia terhadap Venezuela yang dituding melindungi dan memasok senjata bagi Kelompok Pemberontak Marxis FARC, dimana tuduhan Kolombia tersebut sangat mengganggu integritas kepemimpinan Hugo Chavez, Presiden Venezuela yang langsung memutuskan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya tersebut. Hugo Chavez merupakan presiden beraliran sosialis dan sangat menentang pengaruh Amerika Serikat berikut paham kapitalismenya dimana Kolombia merupakan rekan Amerika Serikat. Kepemimpinan Chavez yang sangat kuat dan keras tersebut sangat didukung oleh rakyatnya yang menganggap Chavez sebagai pemimpin yang mampu memberikan kesejahteraan. Chavez sejak terpilih 1998 telah memulai program-program ekonomi sosialisnya dan menentang campur tangan barat dalam setiap sendi kehidupan ...

The Return of Realism in The Contemporary World?

21 tahun runtuhnya Uni Soviet, 21 tahun runtuhnya Perang Dingin, pembentukan tata dunia baru sudah berjalan sekian lama dalam rentang waktu tersebut. Runtuhnya Uni Soviet meruntuhkan argumen realis dimana tata dunia tidak akan berubah dari bipolarisme yang dianggap dapat menstabilkan perdamaian dunia. Bipolarisme yang sebegitu kuat mengutubkan negara-negara bangsa menjadi dua kekuatan besar dianggap menstabilkan karena dapat menampung kekuatan-kekuatan yang 'berantakan' dan 'berserakan' sehingga kekuatan-kekuatan tersebut tidak 'bermain sendiri' dan saling memakan. Ibarat seorang ibu yang sedang berbelanja, ia menaruh seluruh belanjaannya dalam kantong plastik agar tidak berserakan. Begitu juga dengan bipolarisme, ia meringkaskan kekuatan-kekuatan dalam satu wadah atau kubu. Oleh karena itu dalam Perang Dingin tidak mencuat konflik-konflik internal. Konflik terakomodir dalam satu isu, satu medan, satu cakupan, satu isu, dan dua pemain. Terakomodirnya isu dala...

Pemikiran Feminisme dalam Hubungan Internasional

Sebagai salah satu upaya menengahkan masalah keseimbangan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat internasional, pemikiran feminisme hadir sebagai kritik terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang “tradisional” dan bersifat state-centric . Seperti pemikiran-pemikiran post-positivis lain, feminisme membawa pula semangat emansipatoris baik secara epistimologis (sebagai third-debate dalam ilmu hubungan internasional) maupun ontologis. Pemikiran feminisme dalam Hubungan Internasional menyatakan bahwa telah terjadi diskriminasi atas keberadaan perempuan dalam politik internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor atau sebab. Beberapa faktor dan sebab itu mencabangkan pemikiran feminisme dalam beberapa pendekatan. Pendekatan   liberal menganggap ketidakacuhan sistem terhadap eksistensi perempuan merupakan faktor pemicu diskriminasi terhadapnya. Pendekatan Marxis menawarkan pemikiran lain, bahwa diskriminasi perempuan merupakan dampak dari sistem ekonomi dunia yang kapita...

Obyek Wisata Gunung Kumgang, Korea Utara

            Korea Utara dan Korea Selatan yang sejatinya masih dalam keadaan perang sejak 1950, ternyata memiliki hubungan kerjasama pengelolaan obyek pariwisata. Obyek tersebut adalah Pegunungan Kumgang. Pegunungan Kumgang sejatinya berada di wilayah Korea Utara, tepatnya di wilayah Kumgangsan. Gunung ini memiliki ketinggian mencapai 1.638 meter di atas permukaan air laut dan merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Taebaek.             Obyek wisata ini dikelola oleh Organisasi Pariwisata milik negara (“Ryohaengsa”) di bawah administrasi pemerintahan Korea Utara. Namun, untuk membantu jalannya pariwisata tersebut, Korea Selatan mengizinkan warga negaranya untuk mengunjungi obyek tersebut. Perusahaan Hyundai membangun suatu kawasan wisata khusus untuk mengakomodir turis-turis asing seperti dari Amerika Serikat, Eropa, dan Korea Selatan. [1]      ...

Ancaman Krisis Minyak Setelah Revolusi Afrika dan Timur Tengah

Serangan yang dilancarkan militer koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis telah terjadi dan meluluhlantakan sebagian Tripoli dan membumihanguskan kediaman Presiden Libya Moamar Khadafi, Serangan ini merupakan hasil dari resolusi DK PBB no. 1973 yang berisi larangan terbang militer Moammar Khadafi. Dalam resolusi tersebut larangan terbang ditujukan untuk melindungi warga sipil dari serangan militer Moammar Khadafi. Serangan ini praktis membuat Khadafi naik pitam dan menyatakan akan menyerang balik. Dari peristiwa ini munculah kontroversi di beberapa negara khususnya negara-negara besar dan negara-negara di Timur Tengah. Seperti dilansir di surat kabar, dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 5 negara menyatakan abstain yaitu Rusia, China, Jerman, Brasil, dan India. Di Rusia, Perdana Menteri Vladmir Putin mengecam tindakan Militer Koalisi menyerang pasukan Khadafi karena dianggap sebagai "ajakan perang salib" (Kompas, 23 Maret 2011) model baru. Pr...

Kegagalan Otoritarianisme di Afrika utara dan Timur tengah

Revolusi berarti perubahan secara mendasar dan umumnya bersifat masif serta melibatkan berbagai elemen lapisan masyarakat. Revolusi juga berarti perubahan yang cepat atas ketidakpuasan terhadap sistem yang telah berjalan. Konflik yang terjadi di Afrika Utara dan Timur Tengah menunjukkan ada yang harus diubah dan ada sesuatu yang memaksa perubahan harus segera dilaksanakan. Namun, pertanyaan yang menggelitik adalah siapa yang menginginkan perubahan tersebut terjadi? Siapa yang memicu dan mendalangi di balik semua pemberontakan tersebut? Apa kepentingan yang mendasari tindakan tersebut?  Setidaknya menurut media massa dan para pakar, Tunisia menjadi  negara entry point dari perubahan besar yang terjadi di Timur Tengah. Jatuhnya kekuasaan Ben Ali menjadi pemicu dan penginspirasi beberapa gerakan pro-perubahan negara-negara di kawasan tersebut. Gerakan perubahan umumnya membawa jargon pro-demokrasi, yang sudah muak akan rezim otoritarian yang telah menekan kebebasan berpolitik. ...